Saturday, March 1, 2014

Dear Past

Dear Past,
I once knew a girl I put on the top of my priority. The one I thought I would end up with forever, but at the same time the one I wasn't sure to be with together.

Because I was afraid that spending the rest of my life would only give me more time and more chance to hurt.

Dear Past,
The idea of you always looks wonderful, but no matter what I do, you will only stay there and last as an idea.

Dear Past,
I'm glad you were there.
I'm glad you were part of my life once.
I'm more than glad that you came in an entity of a woman I treasure:
Dear Bets.


March 2
- your has been future

Thursday, February 27, 2014

Lebih Dari

Dear Bets...

Aku ingin sekali melihatmu memakai kebaya yang kau ceritakan dalam suratmu.
Karena dulu, aku sempat membayangkan bahwa suatu hari aku akan berdecak kagum melihatmu berjalan menaiki tangga masjid dibalut kebaya keemasan.

Sekarang, tak lama lagi, mungkin bayanganku itu akan terwujud. Decak kagum dan rasa haru akan kurasakan saat akhirnya melihatmu berjalan ke pelaminan. Melihatmu tampak depan, kemudian melihatmu tampak belakang saat pandanganku mengekorimu hingga kau tiba di kursi pengantin. Tapi aku tak akan bisa melihatmu dari samping dengan ekor mataku. Karena bukan aku yang berjalan di sisimu, dan menyamai langkahmu pelan-pelan.

Duduk di kursi undangan pun sepertinya terdengar menyenangkan. Aku akan pulang untuk itu, Bets. Aku tidak mau melewatkan hari bahagiamu dengan menerka-nerka bagaimana. Aku ingin ada di sana.

Ada di sana, untuk melihatmu bahagia.
Untuk turut mendoakan.
Bukan doa restu. Karena menurutku, seorang mantan tidak layak memberikan restu. Cukup doa saja.

Meski di mataku, kau lebih dari sekadar mantan.


27 Februari
— turut mendoakanmu

Tuesday, February 25, 2014

Sempat Erat

Dear Bets,
Aku di Paris sejak akhir pekan kemarin. Maaf lupa menceritakannya padamu. Aku terlalu sibuk menikmati romantisnya kota ini. Juga sedikit sibuk berwisata kuliner. You know, the famous French cuisine. So far, I've had French Toast, French Fries, and a little bit of French Kiss.

No, I was kidding. Kau tahu aku, candaan tidak lucuku yang sering kau tertawai karena saking garingnya, bukan karena lucunya. Well, at least I got your laugh. Your beautiful laugh.

Masih sering tertawa, Bets?
Apakah dia sering membuatmu tertawa? Dia pria yang lucu kan, seingatku begitu. Aku tidak sabar untuk bertemu kalian berdua. Nanti saat kita bertemu, kau adalah seorang istri. Bukan lagi dirimu yang dulu kukenal. Tapi hal itu tak akan mengubah dirimu, kan?

Tetaplah jadi seorang perempuan baik hati dan menarik, seperti dirimu yang kukenal selama ini.

Kau beruntung, Bets.
Dan dia lebih beruntung, telah memenangkan hati seorang perempuan sepertimu.

Aku tidak sedang cemburu.
Aku hanya mensyukuri apa yang sempat aku punya.
Aku bersyukur atas apa yang tidak lagi kumiliki.

Aku memang sempat menggenggam tanganmu erat, tapi dia memelukmu lebih hangat.

Semoga dilancarkan, Bets.


February 25,
— a stranger in Paris

Sunday, February 23, 2014

Tapi Nanti

Dear Bets...
Pernah terpikir tidak, kenapa rangkaian surat kita makin ke sini, yang dibahas makin berat saja? Kenapa dulu kita jarang sekali seperti ini, bicara panjang lebar dari hati ke hati, menyuarakan hal-hal yang mungkin kita pendam saja? Atau mungkin karena kita dulu sudah terlalu nyaman dengan yang kita rasa, dengan apa yang ada antara kita? Mungkin.

Begitu nyamannya aku bersamamu dulu, hingga aku lupa untuk bicara tentang kejujuran hati. Aku sibuk menikmati saat kita saling bercanda, tertawa, berbagi cerita tentang hal-hal yang kita alami saat sedang tidak berdua. Aku menikmatinya, sangat. Apa yang pernah ada dulu adalah saat-saat menyenangkan. Tidak pernah tidak kukenang dengan indah.

Tapi aku lupa, bahwa tidak selamanya membohongi diri sendiri itu akan berjalan sempurna.

Kini, aku sudah jujur kepada diriku sendiri. Nanti, akan kuceritakan padamu tentang kejujuranku.
Tapi nanti, setelah kuhabiskan secangkir kopi yang mengingatkanku padamu.


February 23,
— honesty's new friend

Friday, February 21, 2014

Dua Kepingan

Dear Bets,
You still love puzzles, don't you?

Membaca suratmu membuatku membayangkan bahwa kita adalah dua kepingan permainan acak gambar. Dua kepingan yang pas saat disatukan, namun tidak saling melengkapi. Saat kita bersatu, kita tidak menghasilkan gambar yang seharusnya muncul saat semua kepingan terpasang. Ada masa saat kita akhirnya menemukan kepingan lain yang tidak hanya cocok disatukan, tapi juga saling melengkapi. Dengan kepingan lain itu, tergambar kesesuaian yang sudah seharusnya.

Kurasa kau sudah menemukan kepingan lain itu. Kuharap gambar yang tersusun pun memang sesuai dengan yang kau kehendaki.

Dan kita, akan selalu bisa menjadi dua kepingan yang menyusun gambar berbeda. Akan ada masa saat kita akhirnya saling melengkapi, dalam gambar yang oleh siapapun melihatnya, mereka melihat persahabatan.

Dan bila saat itu tiba, kupastikan itu adalah gambaran terbaik tentang dua orang yang pernah saling mencinta.


February 21
— your other puzzle's piece

Wednesday, February 19, 2014

Silly Sunflower

Dear Bets,
Aku menulis surat ini dengan terburu-buru. Aku ketinggalan pesawat sore, dan akhirnya terpaksa pindah ke penerbangan terakhir malam ini.

Penerbangan terakhir.
Saat aku meninggalkan Indonesia pun aku sempat ketinggalan pesawat, untung saja maskapai yang kugunakan saat itu bersedia mengubah jadwal penerbanganku ke penerbangan terakhir.

Tentu saja kau tidak tahu itu.
Tentu kau tidak tahu kenapa saat itu aku bisa terlambat. 

Satu lagi cerita aku kuak untukmu.
Hari itu, sedari siang aku di depan kantormu. Menunggu kesempatan lain untuk melihatmu sekali lagi. Aku menunggu di kafe depan kantormu, dengan bercangkir teh, dan kopi. Tapi aku tidak pernah melihatmu. Tidak sama sekali.

Aku tahu aku akan terlambat jika menunggumu hingga jam pulang kerjamu tiba. Jadi, aku cuma bisa menitip pesan dan salam untukmu.

Kau ingat ada sebuah vas bunga besar dengan bunga matahari tiba di mejamu?
Konyol sekali, bunga matahari dalam vas yang lebih pantas disebut guci.

Itu dariku.
Sebentuk salam dariku yang penuh syarat kutitipkan ke dia.

Iya Bets, aku mengenal dia.


February 20,
— silly florist

Monday, February 17, 2014

Bukan Kita

Dear Bets,
Ada satu yang kau (mungkin) tidak tahu. Sesuatu yang tidak sempat, dan tidak pernah kusampaikan padamu. Pada satu titik saat aku memutuskan untuk menuju arah berbeda dari jalan yang kita tempuh bersama, aku berhenti. Aku mencoba meyakini satu hal yang tidak pernah kuyakini sebelumnya: mengikatmu dengan janji resmi.

Saat-saat bersamamu adalah saat-saat bahagia. Bersamamu kudapat manisnya perhatian, tapi getirnya pikiranku tak pernah pergi. Kala menghabiskan waktu denganmu, kudapatkan bahagianya tertawa, tapi lirihnya desahan gelisah jiwaku tak pernah hilang.

"There is no room for anyone else.", katamu.
"There was no room for anyone else.", katamu juga.
Bagiku, "There was never a room for us."
Mungkin terdengar menyakitkan, mungkin terdengar sombong, mungkin terdengar egois. Tapi menurutku, mungkin tidak.
Mempertahankanmu, justru adalah hal paling egois yang kulakukan. Karena itu, aku melepasmu.

Ada yang salah dengan kita?
Iya.
Apa yang salah dengan kita?
Tentu saja, karena ada "aku" di dalam "kita" itu.

Dear Bets,
Aku merindukan kamu, bukan kita.


February 17
— a selfish has-been of yours