Showing posts with label #SatuHariSampaiNanti. Show all posts
Showing posts with label #SatuHariSampaiNanti. Show all posts

Sunday, April 13, 2014

11 — Sebelah


Aku merindukan hal-hal sederhana seperti menggenggam tanganmu saat kita menyeberangi jalan raya.

Atau saat kita menonton acara televisi tidak penting, kemudian diam-diam jemariku sempurna mengisi celah di antara jari-jari tanganmu.

Juga saat kita tanpa sadar bergandeng tangan sewaktu duduk bersisian di atas sofa di warung kopi.

Dan ketika kau yang sedang duduk menyambut uluran tanganku untuk kemudian kau pegang erat seraya kutarik hingga kau berdiri dan berakhir di pelukanku.

Aku merindukan hal-hal sederhana seperti itu, saat genggaman yang kudapat bukan sekadar jabat sebelah tangan.

Kenapa sekarang kita tak henti menepis sesuatu yang seharusnya kita genggam?


10 April
— sebelah tangan

10 — Tidak Pernah Jauh

Aku kembali terjaga di hari yang berbeda, tetap dengan rasa yang sama seperti hari-hari saat menyampaikan apa yang kurasa padamu tidak serumit ini.

Meski kini mencintaimu tidak semudah dulu, dalam diam mengucap sayang tidak pernah kulewatkan.

Mengenangmu masih tidak sesulit mengendapkan harapan, hanya saja melupakanmu tetap kurasa susah.

Merindukanmu pun tidak pernah jauh dari selangkah menuju rumah, karena engkaulah pulang yang tak akan pernah aku pergi lagi.

Sejauh apapun kau bentang jarak, aku mendekat.


Sembilan di Bulan Keempat 
— untuk yang selalu jadi kesayangan

Friday, April 4, 2014

Day 5 - That Voice

It’s the fifth day after the rejection.
Not even a week yet.

I whisper to myself:
“Why should today be worse than yesterday?”

That little voice in my head answers:
“Because it gets harder everyday knowing that the more day goes on, the more you get apart.”

I smile bitterly. Maybe tomorrow this hope will finally go away. Maybe.

Thursday, April 3, 2014

Day 4 - Just Another Day

Waking up this morning, nothing was new.
You were still the one coming to my mind right after I opened my eyes.

I tried to smile, though.
And I whispered to myself, “It’s just impossible to wake up in the morning and stop loving someone.”.

So I let my mind take me to everywhere it goes.
It’s just another day. I’m sure I can survive it.


— April 3rd

Wednesday, April 2, 2014

Hari Tiga - April 2nd

"Mungkin cuma bercanda."
Kataku dalam hati, ke diri sendiri.

"Ah iya, pasti ini hanya bercanda."
Kataku lagi, meyakinkan diri bahwa penolakan yang kudengar darimu adalah tak lebih dari lelucon belaka.

"Hahaha… Dasar kamu, kali ini berhasil mempermainkanku."
Aku tertawa dalam hati sambil membayangkan ekspresi jahil di wajahmu.

Senyumku masih mengembang saat sekilas kulihat jam dan tanggal di layar telepon genggamku.

Tanggal 2 April. 
Hari berganti.
April Mop sudah lewat.

Tuesday, April 1, 2014

Hari Dua - Siapapun Yang Menjadi Kekasihmu Nanti

Siapapun yang menjadi kekasihmu nanti, aku yakin dia akan menyayangimu seperti aku menyayangimu.
Mungkin lebih.
Karena dia akan lebih punya banyak waktu untukmu. Dia juga akan ada setiap saat kau butuh. Dia bisa menemanimu dalam perjalanan tanpa rencana. Dia mencintaimu tanpa terhalang jarak.

Siapapun dia yang kelak mendampingimu setelahku, aku yakin dia akan menjagamu seperti aku menjagamu.
Bahkan lebih.
Karena dia akan selalu ada di sisi kanan tempat tidurmu. Dia juga yang akan memelukmu sepanjang malam. Dia bisa menjagamu tetap lelap dalam hangat raganya.

Siapapun yang kau cintai setelah kepergianku, selalu akan lebih baik dariku.
Karena aku hanya bisa mengucap sayang lewat pesan singkat. Aku hanya bisa menemanimu lewat suara di seberang telepon. Aku hanya bisa memelukmu dalam gambar tak bergerak. Aku hanya bisa menjagamu dalam jeda. Aku hanya bisa mencintai semampuku menghapus jarak.

Siapapun yang menjadi kekasihmu nanti, dia juaranya.


Hari Satu - Izinkan Aku Sekali Lagi

Aku datang.
Bukan untuk memintamu kembali. Bukan juga untuk
berpanjang lebar menjelaskan alasan-alasan atas
perbuatanku padamu. Aku datang dengan mencoba tidak membawa serta pengharapan. Meski itu berarti membohongi diriku sendiri. Karena seribu kalipun aku berkata bahwa aku telah berhenti berharap, harapan itu selalu ada.

Aku hanya ingin memelukmu sekali saja, untuk terakhir kali. Sekali saja sepanjang hari.
Aku hanya ingin memelukmu dalam diam. Dalam diam sepanjang malam.

Karena betapa keras aku berjuang, aku akan tetap kalah dalam perang. Izinkan aku memelukmu, bukan untuk sekali lagi berjuang, tapi untuk terakhir kali sebelum aku benar-benar menghilang.


A Long March
— lifeless