Tuesday, September 25, 2012

La Mentira


Musim panas di Bogota kali ini benar-benar panas.  Tak ada yang ingat entah kapan terakhir kali turun hujan.  Angin yang berhembus pun terasa panas.  Debu dari tanah dan jalanan melengkapi teriknya panas matahari, membuat orang-orang tidak nyaman berlama-lama di luar rumah.  Sudah berminggu-minggu pula tidak terlihat genangan air di berbagai sudut kota.  Hanya saja, ada genangan air mata di ujung mata basah yang telah lelah mengalir di pipi seorang perempuan cantik berbusana tak senonoh yang sedang duduk tanpa semangat di salah satu bangku di ruang tunggu rumah sakit La Innocencia.

"Señora...", sapa seseorang berjas putih sambil berjalan pelan menghampiri perempuan itu.

"Si...", jawabnya lirih dalam nada putus asa bercampur pasrah.

Dokter muda itu tersenyum ramah dan menggamit tangan perempuan itu seperti mencoba menenangkannya.

"Nona Clitorisa Da Fellatio, mari, kita bicara di ruanganku."


***


Musim semi tahun sebelumnya, semua masih tampak indah.  Matahari bersinar cerah namun ramah menghangati kota.  Taman kota kebanggaan warga Bogota, Taman El Bonifacio, tampak teduh oleh rimbunnya dedaunan hijau dari beragam pepohonan dan perdu yang tumbuh di sana.  Di bangku taman di bawah pohon mahoni besar, Clitorisa duduk dan senyum-senyum sendiri mengingat drama yang telah terjadi hampir 2 tahun belakangan ini.  Clitorisa sedang merasa bahagia, impiannya akan segera terwujud.  Impian menghabiskan waktu bersama cinta sejatinya, Fernandick Jose.

Sejak beranjak dewasa, Clitorisa telah memimpikan bersanding dengan lelaki seperti Fernandick.  Tampan, mapan, berbadan atletis, dan jagoan di ranjang.  Mimpinya seperti mulai mendekati kenyataan saat dia bertemu Fernandick pertama kali di Acapulco Bay, di musim panas dua tahun yang lalu.  Tetapi sayang sekali, ternyata Fernandick telah bertunangan dengan seorang gadis muda kaya raya sebatang kara, Orgasmeralda Cobelita.  Betapa kesalnya Clitorisa saat itu, namun, sebagai seorang wanita sundal nan lacur yang penuh dengan nilai-nilai antagonis di setiap sel dalam tubuhnya, hal itu tidak menjadi penghalang.  Hanya dengan tiga malam bergumul penuh gairah bersama Fernandick, cukup bagi Clitorisa untuk merebut lelaki itu dan menyusun rencana untuk mewujudkan impiannya.  Clitorisa, seorang perempuan pintar yang sanggup melakukan apa saja untuk meraih impiannya bersama Fernandick Jose, lelaki yang telah bertekuk lutut di hadapan kedua pahanya.

Fernandick Jose sebenarnya sudah cukup mapan dengan bisnis yang dia jalani sejak 5 tahun belakangan ini.  Namun, sebagai seorang lelaki yang tak pernah puas, dia juga mampu menghalalkan segala cara untuk mengeruk lebih banyak keuntungan.  Pertunangannya dengan seorang gadis sebatang kara yang kaya raya, Orgasmeralda Cobelita, merupakan anugerah pembuka jalan untuk rencana-rencananya.  Fernandick tidak mencintai Orgasmeralda, dia hanya mengincar harta gadis lugu itu.

Ketika akhirnya Fernandick dan Orgasmeralda benar-benar menikah di musim panas dua tahun lalu, semua orang yakin bahwa mereka akan menjadi pasangan sempurna.  Orgasmeralda tampak sangat bahagia mendapatkan pendamping hidup seperti Fernandick.  Dia tidak tahu bahwa lelaki yang baru menjadi suaminya itu sehari sebelum hari pernikahan mereka, menghabiskan waktu semalaman bersama wanita lain, Clitorisa Da Fellatio, wanita yang baru dikenal suaminya 3 bulan lalu.  Orgasmeralda tidak tahu, bahwa di sini lah drama dimulai.

Angin sore musim semi yang sejuk bertiup santai dan membuat rambut panjang Clitorisa yang hitam mengkilat berkibar indah.  Clitorisa bahagia, akhirnya dia bisa kembali ke Bogota setelah hampir setahun bersembunyi di Acapulco.  Sekali lagi, dia tersenyum sendiri, kedua mata indahnya menyorotkan rasa kemenangan.  Dia merasa menang, Fernandick kini telah hampir kembali ke pelukannya.  Sebentar lagi impiannya terwujud, satu penghalang telah teratasi, tinggal satu lagi.  Satu penghalang yang muncul tiba-tiba di luar rencananya.  Satu penghalang yang bagi Clitorisa, bukan hal yang sulit untuk dilewati.


***


Fernandick Jose masih setengah terlelap ketika dia terbangun dengan sedikit kaget saat merasakan kecupan hangat di dahinya.

"Buen dia, señor…"

Fernandick membuka matanya dan melihat Dulce Labia di hadapannya.  Dulce Labia alta Minora, perempuan yang kini tinggal bersama Fernandick Jose, memainkan rambut ikal sebahunya yang pirang sambil menggigit bibir dan mengedip nakal.  Fernandick menelan ludah, dia tentu saja tidak tahan dengan godaan ini setiap pagi.  Sejak hampir 10 bulan setelah kepergian Orgasmeralda, dia mulai dekat dengan Dulce Labia, sahabat istrinya sendiri.  Mulanya Fernandick mendekati Dulce Labia karena mendiang istrinya, Orgasmeralda, yang dianggapnya brengsek itu mewariskan seluruh kekayaannya kepada Dulce Labia, bukan kepadanya.  Tentu saja Fernandick kesal bukan main, tapi demi peran yang dia mainkan, dia harus pura-pura berbesar hati.  Impiannya untuk segera menikmati kekayaan Orgasmeralda bersama Clitorisa terpaksa tertunda.  Awalnya ini semua terasa berat, dia harus berpisah dengan Clitorisa demi menutup jejak perbuatan jahat mereka terhadap Orgasmeralda.  Clitorisa terpaksa mengungsi ke Acapulco, sementara dia terlunta-lunta di Bogota karena rumah mendiang istrinya dijual oleh sang ahli waris, Dulce Labia.  Tapi Fernandick dan Clitorisa tak kehabisan akal, mereka menyusun rencana baru, yakni mendekati Dulce Labia, dengan tujuan yang sama seperti saat Fernandick mendekati Orgasmeralda dulu.  Untunglah Dulce Labia sama bodohnya dengan Orgasmeralda, dengan mudah dia bisa menjerat hati Dulce Labia, dan hingga sekarang, mereka tinggal bersama di apartemen mewah milik Dulce Labia.

Fernandick Jose baru saja selesai mandi ketika Dulce Labia memanggilnya.  Dia berjalan ke dapur dan melihat Dulce Labia yang masih memakai gaun tidur duduk di depan meja kecil dengan 2 gelas cangkir kopi dan beberapa potong roti bakar.

"Ini kopimu, sayang.", Dulce Labia menyambut Fernandick dengan hangat.

"Gracias, amore...", balas Fernandick sambil mencium lembut pipi Dulce Labia.

"Sayang, coba tebak! Siapa yang hari ini akan datang?", tanya Dulce Labia.

"Tidak tahu. Siapa memangnya?"

"Clitorisa! Dia tadi meneleponku, pesawatnya mendarat pagi ini, dan dia akan tiba di sini sekitar 30 menit lagi.  Kau tidak keberatan, kan? Maksudku, mungkin dia akan tinggal di sini beberapa hari."

"Oya? Tidak, tentu saja tidak. Mana mungkin aku keberatan. Dia kan sahabatmu."

Dulce Labia tersenyum lebar, tampak senang sekali mempunyai kekasih yang penuh pengertian seperti Fernandick Jose.

Fernandick balas tersenyum sambil memandang Dulce Labia.  Dia cantik sekali, desah Fernandick dalam hati.  Fernandick melamun sebentar, dia khawatir dia telah benar-benar jatuh cinta pada Dulce Labia, korban permainannya saat ini.  Dulce Labia yang cantik dan menyenangkan, nyaris sempurna.  Hanya saja bodoh, batin Fernandick dengan cepat.  Dia harus menguasai diri, dia hanya mencintai Clitorisa, dia tidak boleh goyah.  Di mata Fernandick, Dulce Labia bahkan lebih bodoh daripada Orgasmeralda.  Dulce Labia begitu polosnya percaya pada dirinya dan Clitorisa.  Dulce Labia bahkan menyambut hangat persahabatan yang ditawarkan Clitorisa, cinta sejati Fernandick.  Dulce Labia yang sama sekali tak curiga akan permainan Fernandick Jose dan Clitorisa.  Dulce Labia yang bodoh, bisik Fernandick ke dirinya sendiri dengan sedikit ragu.  Jauh di lubuk hatinya, dia mengakui kalau dia mulai menyimpan rasa pada Dulce Labia. Jauh sekali di lubuk hatinya.


***


Clitorisa menggelinjang bagaikan disambar petir mendengar kabar yang disampaikan oleh dr.Armandildo.  Kekhawatirannya terbukti sudah.  Dia lemas seketika bagaikan habis bercinta semalam suntuk.  Tak pernah dia duga sebelumnya, kecelakaan ringan yang dialami Fernandick Jose akan berakibat begini.  Kecelakaan itu tidak fatal bagi Fernandick, tapi dia harus menjalani serangkaian cek kesehatan untuk keselamatan dirinya.  Cek darah yang menguak rahasia lebih besar, dan membawa drama mereka ke akhir yang lebih tragis.

Fernandick Jose terbaring lemas dan tak berkedip memandang kosong ke dinding kamar rumah sakit.  Clitorisa duduk di sebelah tempat tidur dengan ekspresi wajah tak jelas, antara marah, sedih, kecewa, tidak percaya, namun tidak tahu harus berbuat apa.  Mereka sama-sama tidak sanggup memikirkan bagaimana hal ini bisa terjadi.  Mereka tiba-tiba merasa lelah, terlalu lelah untuk menerka-nerka mencari siapa yang salah dan bisa disalahkan. Bahkan saling bicara saja mereka tak mampu.

Tak pernah mereka menyangka, bahwa petualangan mereka akan berakhir di sini.  Panggung tempat mereka unjuk drama rubuh seketika.  Bahkan bagi mereka, dunia telah hancur.  Hidup tak lagi berguna.  Tak ada lagi semangat untuk menghitung waktu tersisa.  Tak pernah mereka mengira, bahwa karma itu ada.  Karma yang tidak pernah kemana.  Karma yang hadir dalam tiga huruf.  Tiga huruf yang entah kapan suatu hari nanti akan membawa mereka ke tempat peristirahatan terakhir: H. I. V.


***


Pemakaman itu seperti biasanya tampak sepi, angin musim gugur bertiup di antara pepohonan besar, menerbangkan dedaunan kuning ke tanah yang telah hampir penuh oleh hamparan daun dan rumput kering.  Seorang perempuan bertubuh langsing nyaris kurus dibalut kemeja putih dan celana panjang hitam, lengkap dengan kerudung yang menutupi sebagian parasnya dan kacamata hitam besar yang menyembunyikan mata cekungnya, duduk di depan sebuah batu nisan.

"Apa kabarmu? Baik-baik saja, bukan? Aku di sini baik-baik saja. Kuharap aku baik-baik saja. Atau mungkin tidak.  Waktuku mungkin tak lama lagi. Tak lama lagi."

Perempuan itu terdiam menahan rindu yang dibalut oleh kesedihan.  Dia sudah terbiasa bersandiwara, berpura-pura tegar menjalani sisa hidupnya yang entah hanya akan bertahan hingga berapa lama lagi, dia pun tak tahu.  Dia telah ditinggal pergi oleh orang yang dikasihinya.  Semenjak ditinggal itu pula, dia hanya bisa menghitung hari hingga tiba saatnya dia bisa menyusul cinta yang telah pergi lebih dulu.

"Kepergianmu tak pernah kutangisi lagi.  Kehilanganmu yang kusesali."

Sejak ditinggal pergi, perempuan itu kehilangan separuh jiwa. Hidupnya berubah.  Dia bukan lagi dia yang dulu.

"Aku sudah setengah jalan membalaskan dendammu.  Kalau pun nanti tiba waktunya aku tak lagi di dunia ini hingga aku tak sempat menikmati manisnya balas dendam, aku bisa terima dengan lapang dada.  Aku bahkan akan lebih bersyukur, semakin cepat aku tiada, semakin cepat aku menyusulmu di surga."

Dari tasnya, dia mengeluarkan sebuah bingkai kecil dengan foto di dalamnya.  Foto dua orang yang tampak sangat bahagia saling berbagi pelukan.  Kali ini, dia tidak lagi mampu menahan butiran air mata yang jatuh mengaliri kedua matanya yang cekung dan dikelilingi lingkaran hitam.

"Aku mencintaimu.  Terlalu mencintaimu.  Aku selalu menginginkanmu. Menginginkanmu lebih dari sebagai sahabat.  Namun aku tahu, aku tak akan pernah bisa bersamamu.  Aku tidak akan pernah berani mengambil resiko atas kedekatan kita lebih jauh.  Aku tidak mau membawamu turut serta mendekati kematian.  Tapi ternyata, kau pergi lebih dulu kesana. Aku kehilanganmu, teramat sangat.  Aku memang tak pernah dan tak sempat mengatakannya kepadamu semasa kau hidup, tapi inilah aku, beginilah aku."

Dia menaruh foto itu di sisi bawah batu nisan.  Foto seorang gadis cantik berambut panjang berwarna merah kecoklatan yang sedang merangkul seseorang berambut pirang pendek yang sekilas nampak seperti seorang lelaki muda yang tampan.  Di bagian bawah foto itu tergores tulisan tangan, "I love you, my BFF, Dulce Labia..."

Perempuan itu tersenyum dan berbisik perlahan, "I love you too, Orgasmeralda..."

No comments: