Thursday, September 6, 2012

Selama Kau Jauh

Dari kejauhan, aku lihat dia keluar dari sebuah warung makan bersama teman-temannya. Seperti biasa, dia selalu tampak paling menarik perhatian di antara orang-orang yang sedang bersamanya. Wajah manis itu, yang saat tersenyum atau cemberut pun selalu memancing orang lain untuk curi-curi pandang. Kadang aku bangga, tapi di kesempatan lain aku cemburu, dia pacarku dan aku tidak rela orang lain melirik nakal padanya. Aku rindu, sudah hampir sebulan tidak bertemu dengan dia.

Hampir 2 bulan sudah kami terpisah jarak sejak kepindahannya ke kota lain karena tuntutan orang tuanya yang ingin agar dia melanjutkan pendidikan S2 di universitas negeri di kota ini, kota yang saat ini sedang aku singgahi, tanpa sepengetahuan dia. Aku sengaja tidak bilang padanya kalau aku akan mengunjunginya. Kejutan kecil saja, semoga berbuah manis. Kehadiran diriku tentunya lebih berarti dibanding berjam-jam obrolan lewat telepon dan teks, bukan? Aku tak sabar ingin segera mengejutkannya.

Ini akan jadi pertemuan pertama kami di kota ini, pertemuan yang kuatur dengan bantuan seorang temannya. Tentu saja aku butuh bantuan, karena aku sama sekali tidak tahu di mana persisnya letak kosan dia. Akhirnya, setelah sedikit tanya dan investigasi sana-sini, malam ini aku berada di sini, di dekatnya, hampir di dekatnya. Aku berdiri di depan jalan menuju kos-kosannya, dia sudah di dalam kamarnya, entah sedang apa.

Aku menunggu dia menjawab telepon dengan sedikit berdebar-debar, tidak sabar.

“Halo? Sayang, aku baru mau SMS kamu…”, dia menjawab telepon dan langsung bicara tanpa basa-basi.

“Hehehe… Gombal.”, jawabku. “Eh sayang, aku titip sesuatu sama Ami, dia sudah hubungin kamu?”

“Sudah. Katanya dia mau kesini sekarang, mungkin sebentar lagi sampai. Kamu nitip apa sih?”

“Ada deh. Eh, aku tuh barusan telpon Ami, terus tiba-tiba telponnya putus, habis batere. Dia udah nungguin kamu di depan jalan katanya. Kamu kesana gih sekarang.”

“Hah? Kenapa dia gak telepon aku?”

“Kan ponselnya habis batere. Udah deh, buruan sekarang ke depan jalan. Dia bawa mobil, gak berani masuk jalan kecil katanya. Sekarang ya, buruan!”

“Oh. Oke, aku kesana sekarang. Tunggu ya, nanti aku telepon balik.”

Selesai menutup telepon, aku berjalan menuju tiang listrik di samping jalan masuk menuju kosan dia. Aku bersandar di situ, menunggunya dengan excited. Tak lama, kulihat dia berjalan dan berhenti di pertigaan jalan, celingak-celinguk kebingungan. Dia tidak melihatku yang berdiri di belakangnya sambil menahan tawa sekaligus menahan keinginan memeluknya dari belakang. Dia berbalik badan, dan ketika mengeluarkan ponselnya, dia melihatku. Ekspresi kekagetan bercampur tidak percaya dan ragu menghiasi wajahnya. Dia memandangku, lama. Aku tersenyum, lalu mendekat.

“Sayaaaaaaang…”, teriaknya sambil dia setengah berlari mendekatiku.

Kami berhadapan sejenak. Kupandangi wajah itu, kutatap matanya yang berkaca-kaca.

“Love, I’m here.”, cuma itu barisan kata yang mampu kukeluarkan.

Dia tidak menanggapi kata-kataku. Sekejap, dia rengkuh aku dalam peluknya dan dibenamkan wajahnya di bahuku. Aku balas memeluknya tak kalah erat. Aku tak butuh kata-kata. Dia sudah mengatakan segenap isi hatinya tanpa perlu berbicara. Lewat dua matanya yang berkaca-kaca, aku tahu dia sedang bicara berjuta puitisnya cinta. Lewat pelukan eratnya, aku mendengar rindu.

Kami berpelukan cukup lama. Melepas rindu yang selama ini cuma terobati lewat obrolan telepon dan pesan singkat. Lepas semua beban emosi yang selama ini menggumpal di dalam benak dan hati. Penat dan lelah menunggu sua seperti menguap seiring pelukan yang menyelusupkan lega dan bahagia di rongga hati. Dia di sini, di dekatku, di dekapku.

***

“Apa yang kamu lakukan selama aku gak bisa menemanimu?”

“Browsing promo tiket pesawat.”

“Kamu gak usah sering-sering mengunjungiku, kasihan, nanti kamu gak bisa punya tabungan.”

“Aku tidak mau menyerah pada jarak. Rinduku tidak bisa kompromi dengan geografi.”

“Makasih ya sayang. Aku sayang kamu.”

Aku tersenyum. Kalimat klasik dan sederhana itu tak pernah gagal meluluhkan hati seorang pecinta di mana pun.

“Kalau kamu, apa yang kamu lakukan selama gak ada aku di dekatmu?”, aku balik bertanya.

“Menahan rindu. Menyadarkan diriku sendiri agar jangan pernah lupa bahwa di seberang lautan barat ada kamu menungguku dan menjaga kepercayaanku.”

“Hahaha… Romantis deh. Gimana emang cara menyadarkan diri sendiri itu?”

“Banyak cara dong. Tapi aku suka dengerin lagu yang kamu kasih ke aku waktu itu.”

Panggilan kepada para penumpang berkumandang lewat pengeras suara di ruang tunggu itu. Kami berdiri dan bersiap-siap. Dia menyalamiku sebelum akhirnya kami berpelukan selama beberapa detik. Inginnya sih berciuman, tapi kami sama-sama cukup tahu diri kalau kami masih tinggal di Indonesia. Kami harus puas dengan sekadar pelukan.

Aku melambaikan tangan dan tak melepaskan pandangan darinya sampai akhirnya kami benar-benar tak bisa saling melihat sosok masing-masing. Aku akan segera kembali ke kota asal kami, menitipkan sebelah hati masing-masing dengan keyakinan akan kuatnya cinta. Beberapa bulan lagi kami akan bertemu, mungkin saat libur Idul Fitri, masih lama. Aku duduk di bangku dekat jendela, memandang ke arah bangunan utama bandara kota ini. Tentu saja dia tidak kelihatan, tapi aku tahu, dia pasti masih di sana, menunggu hingga aku benar-benar pergi. Kupasang headset music player-ku, kubaca judul lagu-lagu dalam deret lagu hingga akhirnya kutemukan satu yang ingin segera kudengar. Kupejamkan mata dan kunikmati pesan dalam lirik lagu itu: indahnya jarak.

“Kuingin kau tahu, meski pun ku jauh…
Ku ada di hatimu…
Kuingin kau tahu, meski pun ku jauh…
Kau tetap milikku…
Selamanya…”


***

Dua tahun lebih sedikit, dia kembali ke kota kami. Dia tetap menarik seperti dulu, bahkan lebih menarik. Selain itu, semua masih seperti dulu, dia masih dia yang selalu kurindukan. Dia juga masih seseorang yang bisa kuandalkan saat aku butuh teman tertawa akan lelucon-lelucon sederhana.

“Bagaimana rasanya bertemu kembali?”, tanyanya riang.

“Menyenangkan. Sungguh menyenangkan.”

“Apa yang kamu lakukan selama aku jauh?”, dia kembali bertanya, masih dengan riang.

Aku diam. Dia sudah tahu jawabnya. Haruskah kujelaskan lagi apa yang kurasakan? Dia tertawa kecil melihatku tak dapat berkata-kata. Aku mencoba tersenyum dan memandang wajahnya. Wajah seseorang yang begitu berharga bagiku.

Dia menarik nafas sebelum akhirnya panjang lebar berkata, “Aku bahagia akhirnya kita bisa bersama-sama lagi. Aku bahagia kita berjumpa lagi setelah sekian lama terpisah jarak. Jarak mengajarkan kita banyak hal. Aku senang kita berhasil untuk sama-sama tidak menyerah pada jarak. Bukan jarak yang mengalahkan kita, tapi rindu yang tak tersampaikan. Aku bersyukur kita masih punya rindu…”

Dia diam, membiarkan kalimatnya menggantung.

Kami diam sejenak hingga akhirnya aku bicara, “Rindu itu yang membuatku belajar.  Selama kau jauh, rindu menjadikan jarak sebagai anugerah. Selama kau jauh, rindu itu yang membuatku sadar bahwa cinta, apa pun bentuknya, akan tetap mencinta.”

Dia tetap tersenyum. Senyum yang tidak pernah tidak berhasil membuatku tersenyum balik.  Senyum yang mampu membuatku makin bersyukur, bahwa aku masih memilikinya.  Senyum yang terukir di wajah manis itu mengiringi barisan kata yang keluar dari jiwa besar seorang mantan, seorang sahabat:

“Aku bahagia karena dari rindu dan jarak, kita bisa sama-sama belajar. Kamu belajar menjadi pasangan yang baik buat dia, dan aku, aku belajar ikhlas.”

No comments: